Harian Surya tanggal 13 April memberitakan bahwa selama tiga bulan (Januari – Maret 2009) sebanyak 1200 buruh di Surabaya terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Jumlah ini meningkat 300 % atau tiga kali lipat dibandingkan triwulan yang sama pada tahun 2008. Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Tri Rismaharini bahkan memprediksi 85.993 buruh akan menjadi pengangguran akibat dampak krisis global. Ada empat industri yakni garmen, besi, sepatu dan furniture yang pusatnya di Sidoarjo Gresik dan Lamongan. Memang Surabaya bukan pusat dari empat industri tersebut tetapi banyak home base serta industri penunjangnya.berada di kota ini. Sehingga bisa dibayangkan bahwa jumlah pengangguran semakin bertambah. Dan ini cukup mengkhawatirkan karena efek dari jumlah pengangguran yang cukup tinggi adalah munculnya kerawanan sosial, kriminalitas dan lain-lain.
Disisi lain, dari tahun ke tahun, jumlah lulusan universitas semakin meningkat seiring dengan bertambah banyaknya jumlah universitas atau sekolah tinggi baik yang berstatus negeri ataupun swasta. Peningkatan jumlah lulusan tersebut merupakan hal yang menggembirakan karena mengindikasikan akses penduduk terhadap perguruan tinggi semakin tinggi. Akan tetapi, jumlah lulusan perguruan tinggi yang menganggur pun cukup banyak jumlahnya. Sebagian besar lulusan universitas bercita-cita untuk menjadi pegawai negeri atau karyawan swasta. Padahal jumlah pencari kerja dan jumlah lapangan kerja sangat tidak seimbang. Jumlah Pencari kerja sangat tinggi sedangkan lowongan pekerjaan jumlahnya terbatas. Sehingga pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia Indonesia mulai harus diubah orientasinya untuk menciptakan entrepreneur-enterpreneur yang mampu bekerja secara mandiri dan sekaligus sebagai pencipta lapangan kerja. Kenyataan selama ini, pengusaha/enterpreneur Indonesia tumbuh dan berkembang dengan jiwa kewirausahaan yang bersifat turun temurun, bukan melalui pendidikan formal. Budaya kewirausahaan tumbuh dan berkembang hanya dalam keluarga atau kelompok masyarakat tertentu saja.
Untuk menumbuhkembangkan jiwa wirausaha dan meningkatkan aktivitas kewirausahaan agar para lulusan perguruan tinggi dapat menjadi pencipta lapangan kerja, diperlukan suatu usaha nyata yakni sebuah program dari Departemen Pendidikan Nasional yang dinamakan Program Mahasiswa Wirausaha (Student Entrepreneur Program). Program ini dimaksudkan untuk memfasilitasi para mahasiwa yang mempunyai minat dan bakat kewirausahaan untuk memulai berwirausaha dengan basis ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang dipelajarinya. Fasilitas yang diberikan meliputi pendidikan dan pelatihan kewirausahaan, magang dan penyusunan rencana bisnis, dukungan permodalan dan pendampingan usaha. Tujuan dari Program Mahasiswa Wirausaha ini adalah Meningkatkan kecakapan dan ketrampilan para mahasiswa khususnya sense of business sehingga akan tercapai wirausaha-wirausaha muda yang potensial, menumbuhkan wirausaha-wirausaha baru yang berpendidikan tinggi, menciptakan unit bisnis berbasis IPTEKS, serta membangun jejaring bisnis antara pelaku bisnis terutama wirausaha pemula dengan para pengusaha yang sudah mapan.
Sedangkan manfaat yang diharapkan bisa dirasakan oleh mahasiswa adalah memberikan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan soft skill mahasiswa dengan terlibat langsung pada kondisi dunia kerja, memberikan kesempatan langsung untuk terlibat dalam UKM dan mengasah jiwa wirausaha, serta menumbuhkan jiwa bisnis sehingga memiliki keberanian untuk memulai usaha didukung dengan modal yang diberikan dan pendampingan secara terpadu.
Dengan program ini diharapkan dapat memperpendek masa tunggu mahasiswa setelah lulus dari perguruan tinggi untuk mendaptkan pekerjaan. Karena jika mahasiswa dapat berhasil menjalankan usahanya yang sebelumnya difasiltasi oleh program ini, maka setelah lulus tidak perlu kebingungan mencari kerja karena tinggal meneruskan secara serius usaha yang telah dirintis sebelumnya. Dengan itu, diharapkan bisa mengurangi tingkat pengangguran di Negara kita.

Advertisements