Oleh :
Muhammad Yusuf
Jamaah Bang-Bang Wetan Surabaya
Facebook/Email : yusufxyz@gmail.com

Forum Bang-bang Wetan biasanya diadakan sebulan sekali. Ini adalah forum Maiyah yang pelaksanaannya di Surabaya, selain Padhang Mbulan Jombang, Mocopat Syafaat Yogyakarta, Obor Ilahi Malang, Kenduri Cinta Jakarta dan lain-lain. Bang-bang Wetan artinya adalah Cahaya dari Timur untuk memaknai agar forum yang ada di Jawa Timur ini dapat memberi cahaya. Mengenai tempatnya biasanya di Balai Pemuda atau Gramedia Expo. Waktu biasanya mulai pukul 20.00 – selesai. Dalam Forum yang dipandu oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) biasanya membahas tema-tema sosial, religi, budaya termasuk juga politik. Selain Cak Nun, terdapat narasumber-narasumber yang diundang naik ke panggung mulai dari tokoh agama, menteri, intelektual, seniman, budayawan, termasuk masyarakat yang hadir. Beberapa orang yang pernah diundang adalah Arif Afandi (Wakil Walikota Surabaya), Kartolo (Seniman Ludruk Surabaya), Aribowo (Dosen Politik sekaligus Dekan Ilmu Budaya Unair), M. Nuh (Menteri Komunikasi dan Informatika), Priyo Suprobo (Rektor ITS), Zainuddin Maliki (Ketua Dewan Penidikan Jawa Timur), Gus Lutfhi Muhammad (Pimpinan Pesantren Tambak Bening), Suparto Wijoyo (Pakar Hukum Lingkungan Unair), Arief Budiman (Anggota KPU Jawa Timur, Ebiet G Ade (Penyanyi) Hasan Aminudin (Bupati Probolinggo) dan masih banyak lagi lainnya. Forum ini biasanya dimoderatori oleh Sukowidodo (Dosen Komunikasi Unair).
Bang-bang Wetan menjadi sangat menarik karena topik-topik yang dibahas beraneka ragam, diurai oleh narasumber dengan menarik pula serta didalamnya kental sekali nuansa egaliter. Audiens yang hadir bebas bertanya, membaca puisi, mengkritik dan menyampaikan pendapatnya secara egaliter kepada siapapun. Para narasumber bisa bergaul secara egaliter dan akrab. Seakan-akan di forum ini semua menjadi manusia biasa dan satu sama lain bisa saling menyapa dan berinteraksi sebagai sesama manusia secara akrab walaupun berasal dari latar belakang sosial, ekonomi dan pendidikan yang berbeda-beda. Ada mahasiswa, tukang becak, seniman, professional, tokoh partai, akademisi, kyai dan lain-lain. Seorang wakil walikota bisa duduk lesehan bersama-sama dengan audiens lainnya tanpa canggung sama sekali. Rektor sebuah perguruan tinggi besar pun bisa duduk lesehan dengan gayeng sambil menikmati kacang goreng. Pak Nuh, Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia juga turut duduk dan bergaul secara akrab dengan audiens yang hadir tanpa ada batas-batas protokoler layaknya seorang pejabat. Disela-sela penyampaian materi dan dialog biasanya diisi dengan tampilan musik dari berbagai aliran mulai keroncong, pop, religi dan lain-lain. Bahkan kita bisa menikmati kesenian-kesenian yang seringkali sudah sangat jarang ditemui seperti keroncong dan musik tradisional dari berbagai daerah. Diselipkan juga pembacaan dzikir dan sholawat. Semua boleh hadir dan pergi tanpa ada paksaan. Semua pemeluk agama apapun punya boleh hadir tanpa ada diskriminasi. Maka Bang-bang Wetan adalah benar-benar pertemuan rakyat sekaligus wadah kebersamaan sebagai wujud nyata pelaksanaan Bhinneka Tunggal Ika, walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu.
(Surya, 15 April 2009 kolom Warteg)

Advertisements