Suatu saat seorang anak yang bernama Budi berusaha untuk menunjukkan kepada Bapaknya bahwa ia mempunyai kemandirian untuk menyelesaikan persoalan-persoalan dirinya sendiri. Ia mempunyai angan-angan yang sangat tinggi. Maklum saja, ia adalah pemuda pada umur 20 tahun. Seakan-akan dunia dapat ditaklukkannya. Akhirnya ia menikah. Dalam pernikahaannya ternyata ia terhimpit masalah ekonomi. Dia sendiri hanyalah buruh kasar di pelabuhan. Istrinya hanya penjual pisang goreng di pasar. Tetapi angan-angan di kepalanya masih tetap setinggi langit. Ia banting tulang bekerja siang-malam sambil berpikir kenapa kehidupannya begini-begini saja. Kaya pun tidak kunjung datang. Padahal tiap hari ia bekerja dengan sangat keras, jujur, baik. Lalu kapan cita-citanya yang setinggi langit tercapai. Ketika melihat mobil-mobil mewah berseliweran, muncul rasa iri di hatinya. Ingin rasanya memiliki mobil seperti itu. Bagaimana rasanya menaiki mobil mewah yang seperti itu. Melihat orang berpakaian parlente. Ia pun melihat dengan tajam. Kapan dia akan bisa seperti itu. Ketika melihat tokoh-tokoh penting negeri muncul di televisi, ia ingin seperti tokoh-tokoh tersebut. Ingin masuk TV, terkenal, disegani, populer. Pada suatu malam, ia tertidur di beranda rumahnya, karena capek bekerja seharin. Dalam tidurnya ia bermimpi mendapatkan surat dari seorang berjubah putih. Lalu dibacanya surat itu. Tulisan dalam surat itu adalah :

Bersabarlah.
Lakukan hal-hal kecil dengan kesungguhan yang sebesar-besarnya.
Sesuatu yang besar terdiri atas rangkaian sesuatu yang kecil.
Sukses besar adalah rangkaian sukses kecil.
Maka jangan remehkan pekerjaan dan tugas yang kecil karena itu akan menuntun pada pekerjaan dan tugas yang besar.
Angan-angan ibarat benalu yang merusak pohon.
Maka hati-hatilah dengan angan-anganmu.
Tetaplah menginjak kenyataan.
Tapi jangan pernah berpatah semangat terhadap impian dan cita-citamu.
Bayangkanlah cita-citamu tercapai, maka Tuhan akan mengirimkan kepadamu cita-citamu.
Tuhan tidak tidur.

Advertisements