Ada yang menganggap bahwa ilmu pengetahuan yang tertulis di buku-buku adalah kebenaran mutlak, terutama buku teks yang berbahasa Inggris pastilah benar. Maka ketika mengimplementasikan ilmu itu, lalu hasilnya berbeda dengan apa yang tertulis di buku tersebut, maka yang salah adalah yang mengimplementasikannya.

Padahal sebenarnya, sebuah ilmu/teori/konsep/pengetahuan lahir dari sebuah proses yang dinamakan metode untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Ada banyak cara/metodologi/metode untuk mendapatkan ilmu/pengetahuan/konsep/teori, apakah melalui eksperimen, case study , action research, dll. Apakah itu menggunakan eksperimen, case study, atau yang lainnya, pastilah dilakukan analisa terhadap data. Proses analisa dan interpretasi inilah yang bersifat relatif berdasarkan kemampuan dari sang peneliti, berdasarkan sejuah mana data yang digunakan, bagaimana asumsi yang mendasarinya, bagaimana konteks ilmu pengetahuan dan research methodologynya. Akan ada kebenaran relatif lanjutan yang mengoreksi kebenaran relatif sebelumnya.

Ketika metode yang digunakan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan itu berbeda, maka bisa jadi ilmu pengetahuan yang didapatkan pun akan berbeda pula. Misal, penelitian eGov yang menggunakan case study dan interview dibandngkan dengan penelitian topik yang sama eGov tetapi menggunakan metode yang berbeda, maka ilmu pengetahuan yang didapatkan bisa sama atau bisa berbeda. Kalaupun berbeda, maka tidak bisa dikatakan ilmu pengetahuan itu salah. Perbedaan research philosophy pun akan menghasilkan konsep/teori/ilmu pengetahuan yang berbeda pula.

Ada ilmu pengetahuan/model yang lahir dari konteks tertentu, berdasarkan perumus pengetahuan tertentu, yang itu jika diterapkan dalam konteks yang berbeda menjadikan hasil yang berbeda pula. Hal ini terkait dengan ilmu pengetahuan/konsep/teori yang terkait dengan sosial atau implementasi dalam konteks sosial. Salah satu contoh adalah konsep tentang eGovernment yang awalnya banyak berkembang di Eropa, lalu banyak ditulis dalam jurnal, paper, buku dan literatur-literatur lainnya. Ketika referensi itu di tulis maka jadilah ilmu pengetahuan, dan ketika terpublikasi jadilah ilmu pengetahuan itu tersebar kemana-mana. Ketika referensi itu sampai di Indonesia contohnya, maka ada yang menganggap bahwa model itu adalah kebenaran mutlak. Kalau implementasi eGov di Indonesia tidak sesuai referensi itu, maka dianggap salah. Padahal sebenarnya, model itu lahir berdasarkan penelitian eGov dimana sang peneliti melakukan penelitian, misal di Eropa atau salah satu negara.

Jadi, konsep/teori/ilmu pengetahuan yang tertulis dalam literatur mestilah ditelaah lebih teliti mengenai asumsi-asumsi yang mendasarinya. Jika asumsi itu diubah, maka berubahlah ilmu pengetahuan itu. Itulah relativitas ilmu pengetahuan.

Portsmouth, 17/10/2014 00:11

Advertisements