Kalo kita melihat fenomena hari ini, banyak sekali terjadi pertentangan antara sunni-syiah, ahlussunnah-wahabi, barat-timur, konservatif-liberal, agamis-kebatinan dan berbagai macam kutub ekstrim lainnya. Banyak fakta seperti kaum sunni menganggap kafir dan sesat kaum syiah, sedangkan kaum ahlussunnah mengganggap wahabi salah dan sebaliknya kaum wahabi menganggap kaum ahlussunnah terlalu banyak bid’ah dan kurafat, para ilmuwan barat (tidak semua) menganggap ilmu pengetahuan timur adalah mistis-tidak rasional dan para ilmuwan timur menuding barat terlalu mendewakan akal dan melupakan kedalaman spiritual dan hal-hal ghaib.

Pertanyaannya apakah ekstremitas itu harus selalu dipertentangkan ? apakah tidak mungkin disatukan ?

Sebenarnya yang diperlukan adalah membangun jembatan dialog untuk saling belajar satu sama lain, untuk bisa saling memahami.

Apakah tidak boleh kaum sunni mempelajari ajaran-ajaran syiah, dan juga sebaliknya apakah haram pengikut syiah mempelajari khazanah kitab-kitab para ulama sunni. Misal, di sunni ada amalan-amalan atau wirid atau dzikir, begitu juga syiah pun memiliki yang sama. Metode dan bacaanya saja yang berbeda. Pasti akan sangat menarik jika terjadi seperti ini. Mungkin ada hal-hal yang tidak bisa diterima, tetapi pasti ada hal-hal yang bisa diterima dan wajar jika ada hal-hal yang netral. Biasanya yang ditakutkan adalah pengikut sunni berubah menjadi pengikut syiah, atau sebaliknya. Pertanyaannya apakah tidak mungkin menguasai keduanya, khazanah keilmuan sunni sekaligus syiah. Kalau bisa menguasai keduanya, maka betapa hebatnya. Disitulah akan muncul kearifan-kearifan, keluasan pikiran dan cakrawala. Tidak lagi fanatisme sempit. Apakah boleh mempelajari ilmu dari Syiah yang dicap sesat. Bukankah hakikatnya semua ilmu adalah milik Allah, dan luasnya ilmu Allah adalah seluas samudera, sementara otak manusia hanya mampu menampung setetes dari air samudera ilmu Allah. Kalau yang masuk di kepalanya hanya tetes pertama, tiba-tiba ketika tetes air kedua masuk, lalu langsung dianggap sesat. Itu sama saja dengan mengingkari keluasan ilmu Allah SWT.

Barat dan Timur adalah fenomena menarik. Barat terkenal kuat penggunaan akal dan rasionalitasnya, dan timur terkenal kuat spiritualitasnya. Apakah rasionalitas dan spiritualitas bertentangan. Apakah di Barat tidak ada spiritualitas, mistik dan hal-hal ghaib ? ternyata ada juga dan banyak juga. Kalau anda ke berwisata ke kota Bath Spa Inggris, disitu ada peninggalan situs Romawi bernama Roman Bath. Disitu terdapat mata air hangat yang dianggap suci dan mampu menyembuhkan berbagai penyakit. Bukankah ini sama dengan fenomena di makam-makam wali songo. Para peziarah biasanya meminum air dari sumur para wali yang dianggap membawa berkah. Di romania, dijual bebas batu-batu yang dianggap punya khasiat tertentu, apakah untuk pengobatan, kekuasaan, wibawa, dll. Ini kan sama dengan beberapa masyarakat di beberapa daerah di Indonesia yang masih percaya terhadap khasiat dari batu jenis-jenis tertentu. Bukankah sebagai manusia memang diperlukan rasionalitas dan spiritualitas yang kuat. Karena memang keduanya mempunyai fungsi yang berbeda. Jadi tidak haram hukumnya mempelajari pemikiran-pemikiran barat, sekaligus tidak haram hukumnya mempelajari khazanah spiritual dan kearifan timur. Barat tidak punya hal itu, tapi timur juga kurang dalam hal metodologis-rasional dalam kajian-kajiannya keilmuannya.

Apakah salah jika orang berpikiran liberal ? karena menyalahi pakem, ketentuan agama yang sudah ada. Bukankah memang kita terus perlu membuka pikiran secara bebas untuk mendapatkan perkembangan ilmu-ilmu baru. Bahwa ilmu akan kadaluarsa, diperlukan pendekatan-pendekatan baru, ijtihad baru, ide-ide baru, visi baru. Itu wajar dan harus. Termasuk dalam hal agama. Pemahaman agama memang harus terus diperbaharui, karena dunia berubah, situasi dan kondisi berubah, masyarakat berubah, semuanya berubah. Bagaimana mungkin sebuah kitab yang ditulis 200 tahun lalu, dianggap benar semuanya selamanya. Ajarannya dipertahankan dan dibela mati-matian. Sang penulis kitab juga manusia yang hidup pada jamannya, yang mungkin kondisinya sangat jauh berbeda. Sehingga bisa jadi isinya tidak relevan lagi, mungkin sebagian atau semuanya.  Apakah berpandangan konservatif juga salah ? Tidak juga. Karena pasti ada prinsip-prinsip dasar dan tradisi yang sudah baik yang perlu terus dilestarikan, dijaga dan disebarluaskan walaupun itu berasal dari masa lampu yg tradisional. Sehingga, sikap konservatif juga perlu dan berpikiran liberal juga diperlukan. Tinggal menempatkannya saja.

Jadi sikap ektrimisme dalam hal apapun perlu dibuang jauh-jauh. Terlalu ekstrim kanan tidak baik, ekstrim kiri juga kurang baik.

Portsmouth, 5 Maret 2015

Advertisements